Membangun Pemikiran Kritis Dengan Metode Debat

By | March 31, 2018

Banyak anak-anak usia sekolah yang kebanyakan cenderung pasif karena metode pembelajarannya membiasakan anak untuk menerima pelajaran dan memahami sesuatu seacara pasif. Ada beberapa model pembelajaran yang mampu melatih siswa untuk memberikan suara dan berperan aktif selama proses pembelajaran. Salah satu modelnya adalah dengan menggunakan metode debat. Metode ini memiliki beberapa kelebihan terutama jika diterapkan pada mata pelajaran khusus yang membutuhkan skill berbicara seperti pelajaran Bahasa. Metode ini dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu tetapi berpasangan. Model ini diadaptasi dari debat formal seperti debat legislatif maupun debat antar kandidat calon pemimpin. Cara ini mampu meningkatkan proses berpikir siswa, mengasah kemampuan berbicara, melatih kepekaan akan isu-isu di masyarakat dan meningkatkan rasa percaya diri.

Membangun Toleransi Dan Melatih Kerja Sama

Model pembelajaran dengan sistem debat biasanya dilakukan dengan membagi kelas dalam beberapa kelompok dan memasangkan kelompok-kelompok tersebut. Kemudian, guru memberi topik-topik tertentu untuk didiskusikan. Banyaknya ragam topik memungkinkan guru untuk memberi topic-topik yang berbeda dalam bingkai tema yang berkaitan. Kemudian siswa akan diberikan waktu untuk berdiskusi antar anggota dan mengatur strategi. Kemudian setiap siswa diberi waktu yang sama untuk menyampaikan gagasannya. Hal ini sangat membantu siswa dalam hal kerja sama dan manajemen waktu. Siswa harus dapat membagi tanggung jawab untuk berbicara, mencatat dan mengambil kesimpulan dari isu yang dibicarakan.

Selain itu, siswa secara tidak langsung diajarkan tentang toleransi. Meskipun pelajaran dikemas dalam model pembelajaran debat, siswa harus mampu menghargai pendapat satu sama lain. Mereka juga dapat berlatih untuk menyampaikan pendapat ataupun sanggahan dengan cara yang baik tanpa melukai perasaan atau menjatuhkan. Dengan demikian siswa akan mampu membiasakan diri untuk bertindak secara sistematis. Disampingi itu, siswa juga diberi kebebasan untuk berbicara dan mengutarakan gagasan. Guru diberikan kewenangan penuh untuk mengamati serta mengevaluasi kompetensi setiap murid secara objektif. Lebih dari sekadar metode, siswa juga dapat mengembangkan kemampuannya serta meraih prestasi melalui ajang kompetisi debat akademik yang banyak diadakan di berbagai tingkat bahkan hingga internasional.

Related posts: